Penjualan Terompet Tak Seramai Tahun Lalu

Dalam empat hari menjelang pergantian tahun, penjualan terompet tak sebanyak pada tahun lalu. Meski telah terjual ribuan terompet, pengrajin dan penjual terompet mengaku permintaan terompet biasa-biasa saja dan tidak ada peningkatan berarti.

 

Ribuan trompet beragam jenis diproduksi di sebuah rumah di Dusun Bantul Warung, Desa Bantul, Kecamtan Bantul, Senin (26/12/2016). Terompet jenis naga, drot, dan beragam variasi seperti Pokemon, diproduksi sedikitnya oleh delapan pengrajin. Masing-masing pengrajin mampu membuat sekitar 2000 terompet sejak November lalu.

Diakui oleh salah seorang pengrajin, Gunawan, penjualan terompet menjelang tahun baru 2017 tak seramai pada tahun baru 2016 lalu. “Tahun lalu, empat hari menjelang tahun baru persediaan kami sudah menipis. Tapi ini masih banyak, masih ada ribuan,” ujarnya kepada Harianjogja.com, Senin (26/12/2016).

Gunawan tak mengetahui perihal menurunnya jumlah permintaan terompet. Dia menyebut tidak setiap tahun penjualan terompet saat pergantian tahun itu ramai pembeli. Namun dia dapat memprediksi saat momen akhir tahun bertepatan dengan adanya bencana, maka dapat dia pastikan penjulan terompet akan menurun.

“Dulu waktu tsunami di Aceh itu trompet sulit sekali lakunya. Kemarin juga ada bencana lagi, gempa di Aceh,” kata pengrajin asal Wonogiri, Jawa Tengah yang telah mengeluti profesi sebagai pengrajin terompet dan mainan anak-anak selama belasan tahun itu.

Meski permintaan terompet tak seramai tahun lalu, tapi dia berharap dalam empat hari menjelang pergantian tahun ini permintaan dapat meningkat. Kendati kata dia tidak akan bisa sampai terjual habis, namun paling tidak persediaan terompet yang sekarang masih menumpuk dapat berkurang, diserbu pembeli.

“Biasanya yang lebih laku itu yang terompet jenis naga, meskipun model lama dan harganya lebih mahal,” ujarnya.

Beragam jenis terompet buatanya itu dibadrol dari mulai harga Rp5.000 hingga Rp30.000. Pemesan kata dia kebanyakan dari pedagang terompet eceran baik dari Bantul, Kulonprogo, maupun Jogja.

Sumber: Harian Jogja